Persiapan Memasuki Tanah Kanaan - Steven Agustinus

Ketika Tuhan betul-betul membawa kita menyeberangi sungai Yordan rohani kita, di seberang sungai Yordan tersebut, di Tanah Perjanjian kita itu, akan ada begitu banyak raksasa yang lebih kuat dan lebih besar dari yang mungkin selama ini pernah kita hadapi dalam hidup kita.

Meskipun selama ini mungkin Anda sering mengalami banyak pergumulan dan masalah, akan tetapi itu semua belum sebanding dengan apa yang kita akan hadapi di depan sana. Itu sebabnya ketika Tuhan memberikan kita anugerah untuk dapat sampai pada titik di mana kita sekarang berada – di mana mungkin sebelumnya sudah banyak orang ataupun gereja lain yang sudah mencoba melakukan berbagai macam cara untuk juga dapat berada pada titik di mana kita berada dan menyeberangi sungai Yordan mereka, namun karena satu dan lain hal mereka mengalami kegagalan – ini waktunya kita memastikan bahwa kita tidak akan pernah mengalami kegagalan.

Karena itu, kita perlu memastikan bahwa segala sesuatu yang ada dalam hidup kita sudah siap sepenuhnya untuk menyeberangi sungai Yordan kita, karena di seberang sana ada 7 bangsa yang lebih kuat yang akan harus kita hadapi. Jika kita masih mengijinkan ada banyak ‘celah’ dalam hidup kita, suatu waktu celah-celah tersebut akan dapat dimanfaatkan oleh iblis. Merebut Kanaan bukan hanya berarti bahwa kita akan menikmati berkat, tetapi tujuan kita merebut Kanaan adalah untuk memastikan bahwa apapun yang menjadi tujuan Tuhan dalam hidup kita tergenapi. Itu juga berarti, beberapa dari Anda mungkin akan mulai dibawa oleh Tuhan untuk menyeberang dari aktivitas yang selama ini Anda anggap sebagai aktivitas rohani kepada aktivitas yang selama ini Anda anggap sebagai aktivitas sekuler, ataupun sebaliknya.

Tujuan Tuhan membawa kita menyeberang adalah agar apapun aspek hidup yang ada di kota kita akan betul-betul dapat kita tundukkan dan kuasai, agar kebenaran dapat sepenuhnya ditegakkan di sana. Untuk itu, pastikan kita terus membenahi area keinginan dalam hidup kita, area jiwa, maupun area ketaatan mutlak. Selama kita terus berjalan dalam ketaatan mutlak, selama itu juga kita akan melihat tangan Tuhan yang perkasa menopang dan menyertai kita.

1. Untuk kita melangkah dalam ketaatan mutlak, dibutuhkan pembaharuan akal budi.

Ketika Tuhan mulai membawa kita untuk merebut Tanah Kanaan yang Dia sudah sediakan bagi kita, kita akan mendapati ada banyak hal yang selama ini kita percayai sebagai sebuah kebenaran tapi ternyata kebenaran tersebut tidak lagi update buat kita.

Sebagai contoh: selama ini orang berpikir bahwa mereka melakukan bisnis untuk menghasilkan uang. Akan tetapi saya menghendaki agar setiap kita mulai memperbaharui akal budi kita, bahwa kita berbisnis bukan lagi sekedar untuk menghasilkan uang tetapi agar kita dapat bertemu dengan orang lain dan memastikan bahwa orang-orang lain pun dapat hidup di dalam kebenaran. Sebagai efek sampingnya, uangpun datang. Kalau tujuan dari segala sesuatu yang kita lakukan hanya untuk mendapatkan uang, pada akhirnya kita justru akan mengejar uang, dan sebagai akibatnya, kitapun dapat dengan mudah memanipulasi orang lain. Jika kita mengejar orang, kita akan memanfaatkan uang dan uang akan mendatangi kita, tapi pastikan konsep pikir kita diubah terlebih dahulu.

Di sinilah seringkali orang-orang Kristen mengalami kegagalan ketika mereka berusaha menyeberangi sungai Yordan dan merebut tanah kanaan mereka, karena apa yang selama ini mereka yakini dan percayai masih belum mengalami pembaharuan. Tuhan ingin agar kita bisa keluar dari 4 dinding gereja yang ada supaya kita dapat memberi pengaruh bagi komunitas di mana kita berada. Di komunitas, kita akan mulai berinteraksi dan berhadapan dengan banyak jenis orang – orang-orang yang fasik, orang-orang yang tamak, ataupun orang-orang yang menghalalkan segala macam cara untuk kepentingan pribadi mereka. Tanpa kita terus memperbaharui akal budi kita, tanpa kita sadari, secara perlahan tapi pasti kita akan mulai terseret oleh mereka dan akhirnya mengikuti jalan dunia ini. Jika kita sungguh-sungguh ingin mengubah dunia ini, jangan mengikuti jalan dunia ini tetapi ikutilah caranya Tuhan.

Akan tetapi, untuk kita bisa mengikuti caranya Tuhan, kita harus alami pembaharuan akal budi terlebih dahulu karena seringkali cara yang Tuhan sediakan jauh berbeda dengan jalan dunia ini. Jalan dunia ini mengajarkan bahwa untuk seseorang bisa naik ke atas, ia harus naik, akan tetapi Tuhan mengajarkan bahwa untuk seseorang bisa naik, ia harus turun terlebih dahulu. Ingatlah selalu akan hal ini: Kesuksesan sejati hanya bisa kita nikmati ketika kita ada dalam ketaatan mutlak, dan untuk kita dapat melangkah dalam ketaatan mutlak dibutuhkan pembaharuan akal budi.

Karena itu, ijinkan firman-Nya terus menuntun hidup kita karena jalan yang akan kita lalui di depan sana sangatlah berbeda dengan jalan yang pernah kita lalui sebelumnya (Yos. 3:1-5).

Ketika tabut Tuhan yang diusung oleh para imam Lewi mulai berjalan, Tuhan berfirman: “Beri jarak 2000 hasta dan kemudian kamu harus langsung mengikuti.” Maksudnya adalah, supaya mereka dapat mengetahui jalan mana yang harus mereka ikuti – biarkan firman melangkah terlebih dahulu dan kemudian melangkahlah di belakangnya. Saya percaya Tuhan sudah memberikan firman-Nya bagi kita untuk kita dapat mulai menyeberangi sungai Yordan kita dan merebut Tanah Kanaan kiat. Yang kita perlu lakukan hanyalah terus belajar melangkah mengikuti arahan yang Tuhan beri, dan untuk itu kita membutuhkan ketaatan mutlak dalam hidup kita. Jika ada satu aspek saja dalam hidup kita yang belum mengalami pembaharuan, di aspek itulah kita pasti akan mengalami kesulitan – atau bahkan gagal – untuk berjalan dalam ketaatan mutlak.

Cobalah renungkan sejenak: aspek apa dalam hidup Anda yang sampai pada hari ini membuat Anda masih mengalami kesulitan untuk taat? Selama Anda terus mengijinkan pembaharuan akal budi terjadi dalam hidup Anda, selama itu juga Anda akan dapat terus melangkah dalam ketaatan, di aspek apapun juga.

2. Untuk melangkah dalam ketaatan mutlak dibutuhkan ketergantungan penuh terhadap Tuhan.

Sebelum Tuhan – lewat Yosua – memerintahkan orang-orang Israel untuk merebut Kanaan, generasi yang terdahulu pernah menerima perintah yang sama lewat Musa tetapi mereka gagal melakukannya. Demikian pula, mungkin sebelum Tuhan memerintahkan kita untuk menyeberangi sungai Yordan dan merebut Tanah Kanaan kita, perintah yang sama pernah Tuhan berikan kepada generasi sebelum kita, tetapi mereka belum dapat mewujudkannya. Meskipun kita mungkin tidak memiliki contoh atau teladan yang dapat kita ikuti, Tuhan justru memanggil kita untuk berjalan dalam ketaatan, sehingga kita meninggalkan jejak kaki yang akan dapat menjadi teladan untuk diikuti oleh orang-orang lain, dan akan ada lebih banyak orang lagi yang akan mulai melakukan apa yang kita lakukan, sehingga dengan demikian Kerajaan Sorga akan diperluas.

Karenanya, bangun terus ketergantungan kita terhadap Tuhan, karena ketergantungan terhadap Tuhan dan ketaatan mutlak akan selalu membawa kita di jalan kemenangan-Nya. Apa yang menjadi pergumulan Anda saat ini, bisa dengan mudah engkau kalahkan. Karena itu, ijinkan Tuhan secara pribadi mulai berbicara kepada kita, memberikan arahan dan melatih kita. Bangun terus persekutuanmu dengan Tuhan agar level ketergantunganmu terhadap Tuhan semakin hari semakin meningkat. Ketika Tuhan mulai perintahkan kita untuk melakukan sesuatu, mari kita belajar berkata kepada Tuhan: “Give me Your strategy.” Ingat baik-baik, setelah kemenangan yang gemilang atas Yerikho, Israel justru mengalami kekalahan telak ketika menghadapi Ai, karena mereka tidak mencari Tuhan untuk menanyakan strategi-Nya terlebih. Sebelum menghadapi Yerikho, Yosua mencari Tuhan dan Israel mengalami kemenangan. Ketika mereka akan menghadapi Ai, Yosua menetapkan strateginya sendiri berdasarkan pengamatan yang ia lakukan secara manusiawi. Sebagai akibatnya, Israel pun kalah telak.

Selama Tuhan selalu bersama kita, kita akan dapat menghadapi apapun yang harus kita hadapi. Bahkan meskipun persiapan yang kita lakukan belum sepenuhnya sempurna, kita akan tetap bisa melakukan banyak hal, karena Tuhan ada bersama kita. Karena itu, terus bangun persekutuanmu dengan Tuhan dan pastikan kita menggantungkan pengharapan kita hanya kepada Dia.

3. Ketaatan mutlak yang harus kita wujudkan, harus muncul dari setiap aspek hidup kita.

Dengan kata lain, seluruh aspek hidup kita (aspek rohani, manusiawi, keluarga, ekonomi) harus betul-betul dipastikan ada dalam dimensi ketaatan mutlak, karena selama kita ada dalam ketaatan mutlak, kita akan selalu menikmati perlindungan ilahi. Satu pertanyaan yang saya ingin ajukan kepada setiap Anda: Apakah beberapa waktu terakhir ini Anda mengalami kesulitan dalam mendengarkan suara Tuhan? Jika Anda mengalami seakan-akan Tuhan mulai jarang berbicara kepada Anda, cobalah ingat kembali kapan terakhir kalinya Tuhan berbicara kepadamu dan apa yang Tuhan katakan terakhir kali, sebelum selama sekian waktu Dia “membisu” dalam hidupmu. Jika engkau ingin mendengar Dia berbicara kembali kepadamu, lakukan saja apa yang terakhir kali Ia perintahkan untuk engkau lakukan maka Ia akan kembali berbicara kepadamu.

Jika Anda mulai jarang mendengar Tuhan berbicara akhir-akhir ini, itu berarti ada satu aspek ketidaktaatan dalam hidupmu yang masih belum engkau tanggulangi. Bereskan sekarang juga, jangan tunda terlalu lama, karena semakin lama engkau menunda untuk berjalan dalam ketaatan, semakin besar bahaya yang akan engkau hadapi. Karenanya, pastikan engkau terus membenahi setiap aspek hidupmu dan mulailah melangkah di dalam ketaatan.

Tuhan sedang membuka sebuah lembaran yang baru bagi Gereja-Nya; ada atmosfir dan anugerah yang baru yang Dia sediakan bagi kita. Mungkin kita akan menghadapi tantangan yang baru, tetapi kita juga akan menerima anugerah yang baru. Mungkin kita akan melihat musuh yang baru, tapi kita juga akan melihat Dia yang menyertai kita akan mencurahkan kuasa yang baru. Karenanya, ini waktunya kita terus memperbaharui akal budi kita dan mempersiapkan hidup kita sedemikian rupa, sehingga seluruh aspek hidup kita ada dalam ketaatan mutlak.

4. Untuk dapat melangkah dalam ketaatan mutlak, kita membutuhkan arahan yang akurat.

Level ketergantungan kita terhadap Tuhan harus terus diperbaharui, sehingga kita bisa dengan akurat mendengar apa yang Tuhan perintahkan. Tuhan sedang menantang setiap kita untuk terus belajar menerima arahan yang akurat dari sorga setiap hari. Ingatlah selalu: Manusia hidup bukan dari roti saja tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Apapun yang Tuhan katakan, biarlah itu yang mulai kita dengar dan lakukan, karena kepuasan yang sejati baru akan kita nikmati ketika kita berjalan di dalam ketaatan. Selama kita tahu bahwa kita sedang terus berjalan dalam ketaatan mutlak, kita akan selalu menikmati kepuasan hidup, di dalam Dia. Dengan kita mengetahui secara pasti apa yang Tuhan ingin untuk kita lakukan dan kita melangkah dalam ketaatan mutlak, meskipun ada banyak tantangan yang akan kita hadapi, tantangan tidak akan pernah melemahkan kita. Sebaliknya, tantangan justru akan membuat kita menjadi semakin bergairah.

Jangan pernah tergoda untuk melakukan apa yang engkau lihat orang-orang lain lakukan, karena belum tentu itu yang Tuhan perintahkan kepadamu. Jika engkau melakukan apa yang orang lain lakukan – meskipun apa yang engkau lakukan tersebut adalah hal yang baik – tetapi jika bukan itu yang Tuhan perintahkan kepadamu, sesungguhnya engkau sedang melakukannya dalam ketidaktaatan. Karena itu, marilah kita belajar menyelidiki hidup kita, apakah kita sedang melakukan apa yang Tuhan perintahkan dalam hidup kita, karena inilah titik yang paling menentukan, yang akan membuat kita ada di dalam perlindungan Tuhan sepenuhnya atau justru berada dalam bayang-bayang si jahat. Jika kita berada di tempat di mana kita tidak seharusnya berada, kita pasti akan selalu mengalami pergumulan di sana. Lambat laun, kitapun akan mulai merasa lelah dan kehilangan sukacita untuk mengerjakan apa yang sedang kita kerjakan tersebut.

Sebaliknya, jika kita tahu dengan pasti bahwa kita sedang melakukan apa yang Tuhan perintahkan untuk kita kerjakan, sukacita pasti akan selalu ada di sana. Selama kita berjalan dalam ketaatan, Tuhan akan selalu menyertai untuk memberi kekuatan, anugerah, dan sukacita. Apapun masalah yang menghadang, akan selalu ada pertolongan dari sorga untuk membawa kita menang atas setiap masalah.

Ini waktunya kita melakukan penyesuaian terakhir (final adjustment); ada suatu periode yang Tuhan berikan kepada kita sebelum Ia betul-betul membawa kita melewati lautan lepas, dan kita akan mulai melihat bahwa apapun yang Tuhan ingin kerjakan, akan dapat Ia selesaikan lewat kita Gereja-Nya. Pastikanlah dari waktu ke waktu, hati kita terus tertuju kepada kebenaran dan kita terus mendengarkan perintah dan arahan-Nya, karena dari sanalah kita akan alami bahwa Tuhan sendiri yang akan membawa hidup kita semakin naik dalam kemuliaan-Nya, sampai kita menyelesaikan setiap rencana-Nya dalam hidup kita.

Sumber: www.openheavenministries.org

The Whole Point

God doesn’t have limit
Then why we limits ourselves?

Look at The Great One
Then you will see that your troubles are not so big anymore
And you know that you can handle them
Becoz He is in you… You are His Holy temple…

Pemikiran yang berputar-putar dan tidak mengarah pada pengambilan keputusan adalah nama lain dari kekuatiran.
Pemikiran yang membuat kita terus berkubang dalam kebingungan dan asumsi-asumsi negatif serta masa depan yang suram adalah nama lain dari ketakutan.
Dia tidak pernah berkata, “Kamu boleh sedikit kuatir”, tapi Dia jelas-jelas berkata, “Jangan kuatir (sedikitpun!), Aku yang memelihara kamu.”
Dia adalah Bapa yang bertanggung jawab atas kita anak-anakNya.

Kita ada dalam pemikiran-pemikiranNya
Kita merasa takut hanya karena kita belum dapat melihat rencanaNya di depan kita
Tapi rencana itu ada, dan akan menjadi nyata pada waktu yang tepat
Dia hanya meminta kita untuk percaya dan punya iman

Dia memberikan berkatNya pada saat kita tidur
Karena pada saat itulah kita berserah
Karena saat itulah kita tenggelam dalam damai sejahteraNya
Saat tangan kita terbuka untuk menerima
Tanpa terhalang oleh ketakutan, kekuatiran, ketidakpercayaan, dan keraguan

Sama seperti seorang bayi yang sering menangis
Mungkin dia menangis karena merasa tidak enak, lapar, popoknya basah, lonely, dan lain-lain
Tapi orang tuanya pasti tidak akan tinggal diam, coz everything is under their controll
Mereka pasti memastikan bayi mereka aman, tidak kekurangan apapun juga, dan tidak terlantar
The baby is just okay and he will be just fine, terlepas dari kondisi apapun yang sedang dia rasakan
Karena orang tuanya bertanggung jawab atas dia dan mencintai dia

Orang tua dunia aja kayak gitu… apalagi Dia…

He is near
As close as you breath
As close as your prayers

Dia nggak menuntut kita untuk jadi sempurna
Dia hanya meminta kemauan dan iman kita
Supaya Dia bebas melakukan pekerjaanNya di dalam kita dan menyempurnakan kita

That's the whole point...

Feminin Gak = Lemah

Okay I have to admit... ternyata yang selama ini bikin aku ogah berpenampilan girly (hahaha... topik hangat antar JCers cewek nih hihihihi.... toss Jie 'n Delly!) adalah karena aku berpikir berpenampilan "girly" atau yang "cewek" banget itu identik dengan lemah. Yah terlepas dari perbedaan selera dan perbedaan tingkatan "girly" itu sendiri (Hei, yang bikin penilaian 'n tingkatan-tingkatan itu kan orang, 'n selera orang juga beda-beda, jadi ga bisa diterapin ke semua orang coz it's a very subjective topic), ternyata ada pemikiranku yang perlu dibenahin sedikit hehehe...

Baru tadi pagi, aku ngobrol ama Berlian, cewek Batak (yang lebih keliatan "Jawa" daripada "Batak"nya hehehe...) yang super feminin (sekos ama aku) waktu kita lagi mau berangkat bareng ke kantor. Nggak cuman aku yang menilai dia amat sangat feminin, semua orang kantor juga. Pokoknya penampilannya "cewek" banget deh, from top to toe, kadang pake rok, always pake high heels, wah pokoknya di kantor ga ada yang se-feminin dia. Buttt, dia kerjanya as a researcher, yang kadang kudu pergi ke sana kemari pake kendaraan umum buat riset narasumber. This is the thing that amazed me hehehe... Dia emang suka sih jalan-jalan gitu, suka ketemu orang baru, tapi baru kali ini aku ngeliat dengan nyata cewek yang feminin buangeddd (pake "d" 3 kali tuh biar mantepp hihihi...) ternyata bisa juga jadi orang lapangan (which is not my type, I'm an office person hehehe... terbukti dulu dah nyoba 3 bulan jadi orang lapangan bikin aku jadi stress 'n cape jiwa hehehe...).

Ini yang ngebuktiin kalo feminin itu nggak sama dengan lemah, atau harus mehe-mehe. Sebelumnya aku mikir aku nggak mau keliatan mehe-mehe makanya nggak mau tampil "girly", nggak mau keliatan "lemah" atau dipandang "inferior" makanya ogah "girly". Lagian emang dasarnya aku casual siy kalo sehari-hari hehehe... Tapi gara-gara topik hangat yang sempat menjadi bahan perdebatan di YM conference ama anak-anak forum (dan setelah sebelomnya hangat dibahas di blog Enjie), akhirnya jadi mulai nyadar aja (nyadar bareng-bareng ceritanya hehehe... dan berniat bareng-bareng juga hihihi...) buat mulai lebih memperhatikan penampilan diri sendiri as women hehehe... (tozz lagieee!!!)

Temen-temen cewek yang lagi senasib seperjuangan ama aku (you know who you are, don't you? hihihihi...) jadi bikin tambah seru suasana. Ada yang mau belajar make up, ada yang membongkar koleksi baju "girly" lama yang dulu pernah dibeliin sodaranya tapi ga pernah dia pake, ada yang berniat mulai beli baju "girly", hehehehe... seruuuu... soalnya bareng-bareng hihihihi...

Okay girlz... siapa bilang kita ga cantik? Hajarrrr...!!! Hihihihihihihihihi... Tunjukin nyali kita!!! Hidup Cewekkkkk!!!!! Huahahahahaha....
*sambil menggulung lengan baju sok macho*

"Ealah... teuteup deh...."
(Berubah itu kan juga butuh proses... hihihihihi... sabar dunk... ulat juga butuh waktu sebelum dia berubah jadi kupu-kupu.... hihihihi...)

Can You Wait Long Enough?

Menunggu…

Sekali lagi aku melakukannya… Tapi kali ini Dia menambah pengertianku tentang menunggu….

Seperti yang aku pernah tulis di sini 'n juga di sini, menunggu sebenarnya bukan sikap yang pasif, tapi sikap yang aktif. Menunggu adalah kata kerja. Dalam menunggu, kita bisa memilih untuk menggerutu, memendam rasa kesal, atau kita memanfaatkan kesempatan menunggu itu untuk introspeksi, merenung, berdoa, dan membangun diri kita sendiri… lebih lagi, kita bisa melatih salah satu buah Roh ini, kesabaran. Tidak begitu sulit untuk diam saat kita menunggu, tapi tantangannya adalah bagaimana menjagai pikiran kita dari hal-hal negatif yang masuk… Itu berarti menunggu juga adalah sebuah kesempatan untuk melatih kita menguasai pikiran kita, memfokuskannya untuk merenungkan kebenaran dan janji-janjiNya, dan tidak menyerah kalah pada pikiran yang sia-sia. That needs a lot of work!

Kali ini, menunggu membuat aku merenungkan apa yang dilakukan bangsa Israel saat mereka juga melakukan hal yang sama (becozzzz godaan yang aku hadapi sama kayak godaan mereka hehehe...). Musa dipanggil Tuhan untuk naik ke gunung, sementara Harun dan seluruh bangsa Israel harus menunggu di bawah (Keluaran 24-32). Pada awalnya, bangsa Israel menyanggupi untuk taat, mereka bilang mereka akan melakukan segala yang difirmankanNya. Tapi hari berganti hari… mereka merasa sudah terlalu lama Musa meninggalkan mereka tanpa kabar, mereka berpikir mungkin saja Musa tidak akan pernah kembali lagi. Mereka tidak sabar, mereka tidak menjaga iman dan pikiran mereka. Akhirnya mereka meminta Harun untuk membuat allah, yang akhirnya berupa sebuah anak lembu tuangan dari anting-anting emas mereka.

Wajar kalau Tuhan menjadi sangat marah… Bagaimana mungkin bangsa yang dipimpinNya sendiri itu menyembah allah buatan dan menyebut bahwa allah itulah yang telah mempimpin mereka keluar dari Mesir??? Apa yang telah terjadi dalam diri bangsa Israel selama mereka menunggu Musa turun dari gunung? Kemana iman dan janji mereka yang mereka ucapkan pada awalnya? Kemana ingatan mereka akan Tuhan yang memimpin mereka keluar dari Mesir dengan mukjizat-mukjizatNya dan dengan tiang awan dan tiang api?

Ini salah satu bukti bahwa menunggu itu adalah sikap yang aktif. Kita tidak bisa membiarkan pemikiran-pemikiran atau asumsi-asumsi yang negatif, ketakutan, keraguan, ingatan akan pengalaman buruk, dan hal-hal negatif lainnya bersarang dalam otak kita. Kita harus secara aktif menjagai pikiran kita, mengisinya dengan kebenaran-kebenaranNya, me-refresh ingatan kita tentang penyertaanNya dan kekuasaanNya, dan menolak semua pemikiran negatif yang menyerang kita. There’s no other wayWe have to guard ourselves with His Words of truth

I’m so thankful that He is with me while I’m waiting now… and He is keep teaching and reminding me of all His truth and His promises… He also encouraged me through some people who care about me… It’s really true that He never ever leave me alone nor let me fall… He’s my Guardian… my God…

Peter Pan Syndrome

Hehehe... akhirnya nulis tentang ini lagi deh... Sebelumnya aku dah pernah nulis di sini tahun lalu. Berawal dari ngobrol iseng ama Tammy di YM, trus sempet juga ngobrolin topik yang sama ama Anti... and aku bakal tulis sebagian obrolan kita.

Nggak aneh kalo ada satu saat dalam kehidupannya, seseorang ngerasa stuck... Satu sisi kita tahu bahwa kita harus melangkah maju, tapi di sisi lain kita masih nyaman dengan kondisi kita sebelumnya. Misalnya... kita kangen banget saat-saat SMA atau kuliah dulu, 'n kalo bisa pengen balik aja ke masa-masa itu daripada menghadapi resiko menjadi orang dewasa yang harus bertanggung jawab atas diri sendiri dan mungkin mulai bertanggung jawab atas orang lain. Atau mungkin kita ngerasain "peter pan syndrome" ini ketika kita berada di titik di mana kita tahu bahwa jalan di mana kita berdiri akan mengarah maju, dimana tantangan dan tanggung jawab yang akan kita hadapi di depan sana akan bertambah... sementara ada bagian dari diri kita yang masih merasa enggan melangkah maju... ada rasa ragu, apakah kita siap, apakah kita akan mampu menjalani masa depan itu dengan baik? Ada juga rasa takut, karena kita tidak pernah tahu persis apa saja yang akan kita hadapi di depan nanti...

Menurutku... "peter pan syndrome" ini hal yang wajar... karena pada titik ini setiap orang harus membuat keputusan dalam hidupnya. Mungkin keputusan itu ga dilakuin atau ga keliatan dalam sekejap mata, mungkin itu berupa keputusan yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama, karena semua hal membutuhkan proses. Apapun itu, pada awalnya diperlukan respon dan langkah pertama. Tanpa respon atau langkah pertama, kita tidak akan bergerak kemana-mana... Karena jika diresponi dengan pasif, "peter pan syndrome" bisa membuat kita "mati" di dalam (usia fisik terus bertambah namun usia di dalam diri kita berhenti bertambah).

It takes the gut to move forward and to keep growing... Merasakan "peter pan syndrome" mungkin bisa dipandang sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik, nggak berhenti pada kesuksesan masa lalu, tapi melangkah dan bersiap-siap untuk membangun kesuksesan yang berikutnya. Ingat bahwa Dia ingin membawa kita dari satu kemuliaan kepada kemuliaan yang lain, Dia ingin membawa kita untuk terus naik... dan Dia tidak bermaksud untuk menyuruh kita berjuang sendirian, Dia sudah berjanji bahwa tanganNya akan menuntun kita, memimpin kita, tangan kananNya memegang kita dan membawa kemenangan. It takes our faith to walk with Him...

Jadi inget salah satu quote yang pernah aku baca: Dalam keberanian bukan berarti tidak ada ketakutan, tapi ada satu keputusan untuk menguasai rasa takut itu.

PS: Jia you Tammy 'n Anti!!! ^.^

Goncangan: Bagaimana Kamu Memandangnya?

"Adanya goncangan membuat kamu akan dapat melihat apa yang tidak tergoncangkan."

Kata-kata itu muncul begitu aja di pikiranku waktu aku lagi ngerenungin tentang satu hal... I'm sure it was from Him... and it's true... Seringkali kalo kita lagi ngalamin goncangan dalam satu area kehidupan kita, pada awalnya mungkin kita jadi ikutan labil, jadi nggak tau mau ngapain, jadi mempertanyakan tentang banyak hal, pikiran jadi penuh, kadang jadi ngeblank, dan mungkin ada sedikit keinginan untuk lari atau meninggalkan semuanya. Well... I did... but I just don't wanna stuck in here...

Ada maksud yang jelas dari perkataan yang menyarankan agar kita tidak mengambil keputusan apapun saat kita sedang labil atau emosi. Karena pada saat labil atau emosi, tingkat kesadaran kita lagi rendah, kita lagi berada dalam keadaan tidak menguasai diri sendiri 100%, dan itulah yang menyebabkan kemungkinannya besar bagi kita untuk mengatakan atau melakukan hal-hal yang nantinya akan kita sesali, hal-hal yang sebenarnya tidak kita inginkan.

Hal pertama yang aku temukan tidak tergoncangkan adalah Dia... Dia selalu ada untuk aku. TanganNya selalu terbuka dan telingaNya selalu mendengarkan... Aku selalu dapat bersandar padaNya karena Dialah Satu-satunya yang tidak tergoncangkan oleh apapun... apa yang bisa menggoncangkan Dia? Aku ingat salah satu sms dari Santi (temen forum di Bandung): "Dia yang menopang alam semesta tidak akan membiarkan kita jatuh."

FirmanNya di Roma 8:35-39 yang bilang "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." itu emang bener...

Semua hal lain yang ada di dunia ini adalah hal-hal yang sementara, hanya Dia yang kekal... Adalah sebuah pilihan yang sangat disayangkan kalau kita bisa dipisahkan dari Dia hanya karena hal-hal yang sementara... Kenapa disebut "pilihan"? Karena itu adalah pilihan kita. Sebenarnya memang nggak ada yang bisa memisahkan kita dari Dia, tapi... kalau kita lebih memilih hal-hal yang sementara, maka hidup kita pun akan terlepas dari yang kekal dan akan terikat pada yang sementara itu. Mungkin kita nggak mengalami seperti yang dialami Paulus, tapi aku pikir mungkin yang paling dekat dengan yang sering kita alami istilahnya adalah "kesesakan".

Saat mengalami "kesesakan" - pikiran penuh, bimbang, gatau musti ngapain, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, pengen give up, dll... - seharusnya kita lebih mendekat padaNya, bukannya malah menjauh dariNya. Becoz He is the Way and the Truth. Dia akan menyingkapkan apa yang sebenarnya terjadi dan Dia akan menunjukkan jalan yang harus kita tempuh.

Hal kedua yang tidak tergoncangkan adalah janjiNya. "Ask and you will receive..." Semua dimulai dari hati. Jika kita ingin melakukan hal yang benar dalam setiap area kehidupan kita, kita sangat bisa meminta petunjuknya 'n pimpinanNya. Masih kurang? Dia bahkan bilang bahwa Dia akan meneguhkan dan menolong kita, memegang kita dengan tangan kananNya yang membawa kemenangan (Yes 41:10 - "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.").

Kadang orang yang kita percayai pun juga mempunyai saat-saat labil dalam hidupnya, sama seperti kita. Dan pada saat-saat labil, seringkali kata-kata atau tindakan kita semua tidak bisa benar-benar dijadikan patokan atau dipegang teguh. It's just a matter of humanity. That's why pada saat satu atau beberapa area dalam hidup kita goncang, kita harus memegang teguh yang tidak tergoncangkan, supaya kita nggak ikutan goncang, tapi menemukan damai sejahtera dan tuntunanNya.

Ada perkataan yang sangat mengena dalam setiap saat goncang atau saat pergumulan yang kita alami, ini aku dapet kemaren dari orang yang kotbah di gereja: "It's not about the start, but are you finishing well?" Bukan masalah awalnya, tapi apakah kita bisa menyelesaikan dengan baik? Karena setelah awal akan ada proses, dan setiap perkembangan atau kemajuan dalam proses itu juga membutuhkan waktu. Kita bisa menjadi tidak sabar, atau kita bisa memandang waktu ini sebagai kesempatan untuk mendukung munculnya buah-buah Roh... Yeah come on, just be realistic, kesabaran akan muncul kalo kita melatihnya pada saat-saat dimana respon "lama" kita adalah tidak sabar. Kesabaran nggak akan muncul kalo kita nggak pernah ngalamin saat-saat dimana untuk menjadi sabar itu butuh usaha keras. Hal yang sama juga berlaku untuk melatih buah-buah Roh yang lain.

Saat kita menerima Tuhan, Dia memberikan kita hati yang baru, hati yang menginginkan keselarasan dengan kehendakNya. Tapi selanjutnya adalah bagian kita untuk mengabaikan atau mendukung keinginan hati yang baru itu.

Are you shaking right now? Find The Unshakeable and walk through it!

Setelah Itu...

Saat semuanya terasa tersumbat
Langkah terhenti karena kaki terbentur dinding penghalang
Kau sediakan telinga dan tanganMu
Ijinkan semrawut pikiranku dan beribu tanda tanya tergeletak di depan kakiMu

Untuk sejenak waktu seakan berhenti
Menciptakan ruang dimana hanya ada aku dan Kau
Sebentar saja detik-detik seolah enggan melaju
Ketika pengertianMu membungkusku dalam diam

Kau tahu bahwa waktu itu...
Aku hanya butuh didengar dan merasa aman
Kau tahu bahwa setelah itu...
Aku akan dapat mendengar jawabanMu dengan lebih jelas

Ya...

Setelah itu...
Kau tahu aku akan bangkit dengan kekuatanMu
Setelah itu...
Kau tahu aku akan siap berjalan lagi bersamaMu

Setiap kali aku mengetuk pintuMu
Kau membukanya dan selalu ada untukku
Setiap kali aku terjatuh
Kau tak pernah melewatkan kesempatan itu untuk membuatku berubah

Setelah itu...
Kau kembali mengingatkanku...
Untuk setiap perkara Kau punya jawabannya

Setelah itu...
Kau kembali meyakinkanku...
Bahwa terkadang cara-caraMu memang ajaib dan tidak terduga

Pray - Song by Truevibe

Thinking through... what to do
You're searching every angle and point of view
Good advice well rehearsed
Only seems to make matters worse

When you're at a dead end where can you go
My friend there's an answer I know

Pray... When the road is steep
Pray... When your hope gets weak
Know the Father hears through
The silent and the tears you

Pray... When you don't know how
Pray... Heaven's waiting now
And Jesus is just a breath away

Pray...
The deepest sighs of the heart
Sometimes it's a struggle when we first start
To wrap our needs up in words

And trust that somehow we will be heard
But draw near and know you are loved
God hears and His heart is touched

Pray for the strength you're needing
Pray to go on believing
Pray no matter what you face
You'll have the wisdom and the grace to...
Pray...

Mind Crashes

Ada banyak hal yang berkeliaran dan saling menubruk di pikiranku belakangan ini, ada saat-saat labil, ada saat-saat pengen banget protes, ada saat-saat pengen menepi dan mencari ketenangan… Jumat minggu lalu aku curhat sepuasnya ama Dia… sampe tidur baru malem banget… Sabtunya aku dapet something, kayaknya cuman itu yang bisa aku mulai lakuin, supaya aku ga terus-terusan berkutat dengan hal-hal yang negatif… Eh Minggunya di JPCC kotbah Jose Carol pas banget, kayak peneguhan dari apa yang aku dapet sehari sebelumnya… waw… Thank You very much God…

But my process isn’t over yet… aku harus memilih setiap hari untuk memegang perkataanNya, aku harus memilih setiap saat untuk nggak membiarkan pikiran-pikiran negatif itu muncul lagi. Aku harus belajar menyeleksi dan menyaring setiap perkataan yang aku dengar dari orang lain…'n juga sambil terus membangun diriku...

It’s very true that… the most loyal One in every situation of our life is Him… Nggak ada seorangpun yang bisa ngegantiin tempat Dia… Dia menerima kita dalam segala keberadaan, perasaan, dan kondisi kita… and He understand them all… Instead of judge, He gives us love, passion, and conciousness from the inside out so we can change to be better… Instead of push too hard, He gives us wisdom to know the reason and the purpose of what we will do, and be patient with us… He knows me better that anyone else, even better than myself… and He knows best how to handle my heart…

Sometimes, in certain things, I just don’t know what I have to do… But His invisible hand, anyway, keeps holding mine while I’m walking toward… That’s the most precious experience that gives me proove that He loves me and I’m His belonging

Dalam setiap hal pasti ada jalan keluar... becoz He is The Way Himself... He is The Way, The Truth, and The Life...

Perpisahan di Rumah Duka

Hari ini adek temen kantorku meninggal. Adiknya emang udah sakit kanker hati dari lama, tapi belakangan ini temenku (kak Prima) memang lagi bergumul soal adiknya ini (coz masalah adiknya complicated, dulu dia sempet bilang ke aku kalo dia hampir give up ngurusin semuanya tentang keluarganya, termasuk adiknya ini), coz udah beberapa kali masuk RS. Kak Prima beberapa bulan ini juga deket banget ama adiknya, di tengah kesibukannya sebagai salah satu segment producer Solusi Life (yang kerjaannya seabreg-abreg, sering pulang subuh pagi balik lagi ke kantor), dia pulang ke rumah ‘n ngerawat adiknya… Yah, seperti yang pernah dibilang ama TB Joshua, kadang kematian juga salah satu bentuk kesembuhan…

Waktu tadi aku dateng ke rumah kak Prima ama beberapa orang kantor, aku jadi nyadar… bahwa emang kematian itu ga bisa diprediksi… Kak Prima bahkan sebelum ini udah hire pembantu plus udah ngajuin permintaan pindah ke kerjaan dia yang lama, jadi bagian administrasi produksi, supaya dia punya lebih banyak waktu buat ngerawat adiknya… Semuanya tadi pada nangis… adik-adik kak Prima yang laen juga keilangan banget… Ada adiknya yang masih ga terima karena dia dah doain tapi kok ga sembuh, “… padahal kan katanya ada kesembuhan dalam nama Yesus…”. Trus ada juga pertanyaan di otakku, kalo tau endingnya juga meninggal, pernah ga siy terbersit protes/pertanyaan/penyesalan: “Trus ngapain aku ngerawat dia sampe segitunya kalo akhirnya dia juga meninggal?”

Aku kagum banget ama kak Prima… Dia bener-bener mengutamakan keluarganya, sayang ‘n perhatian banget ama adiknya… apalagi belakangan ini, waktu kerjaannya lagi padat banget, dia juga sama padatnya ngurusin adiknya… Tadi ada orang kantor yang bilang, “Prima udah ngelakuin yang terbaik, dan Arto (nama adiknya) mempunyai kenangan yang paling indah karena dia tahu kakaknya sayang ama dia ‘n ga menyerah ama dia…” Dia tetep keukeuh, tetep fight… sampe saat terakhir adiknya… She's the model for constant and consistent love from God...

Aku jadi inget dulu waktu emakku meninggal 2 tahun lalu… aku juga ga nyangka… aku pikir masih bisa ketemuan lagi pas aku mudik… tapi ternyata aku mudik waktu dia udah meninggal… Ada penyesalan kenapa pas mudik-mudik sebelumnya aku ga do something more for her… I wasn’t prepared coz saat terakhir aku mudik dia masih sehat-sehat aja… Mana yang sering dia tanyain pas saat-saat terakhir itu aku… Yah well… life must go on… we learn from our past mistakes and do better today

Dari situ aku jadi mikir… emang yang paling berharga itu adalah bener-bener berbuat maksimal di hari ini untuk orang-orang yang kita cintai. Karna kita ga pernah tau apa yang bakal terjadi besok… Seringkali kita terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil sampai kita menyakiti orang lain, melukai orang lain, dan juga diri kita sendiri. Kalo inget bahwa kematian itu ga terduga, mungkin kita bakal lebih menghargai waktu yang kita punya ama orang-rang yang kita sayang, bakal ga membesar-besarkan masalah yang sebenernya bisa dihadapi dengan kepala dingin, bakal lebih menghargai mereka, lebih sabar ama mereka, menyayangi mereka, dan lebih menghindari untuk menyakiti perasaan mereka…

Tadi pagi aku sempet baca Pengkotbah bentar… ada yang bilang intinya lebih baik ada di rumah duka daripada ada di pesta dan bersenang-senang… something like that… (ga sempet cari ayatnya hehehe…). I think that’s true… Kalo dipikir lebih dalem… memang ujung-ujungnya satu… yang penting takut akan Tuhan… karena semuanya berawal dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia… juga melakukan hal-hal yang berarti untuk orang-orang yang kita kasihi hari ini… so we can share His love with them, through many ways…